Mengamati seorang ibu dengan anak lelakinya yang gemuk, yang usianya sekitar satu setengah tahun. Sempat berbincang, ternyata suami dari ibu ini bekerja di Negeri Jiran dan hanya pulang tiga bulan sekali ke Indonesia. Di tengah perbincangan kami pun, sang anak mengantuk dan akhirnya tertidur dengan lelap di pangkuan ibunya. Selain membawa anaknya, ibu ini pun membawa satu tas dan dua plastik yang terisi penuh dan sepertinya berat. Berapa hal kemudian terpikir olehku, bagaimana ia dapat membawa semuanya sekaligus ketika turun dari angkot? Jawabannya mungkin dapat kualami nanti ketika menjadi seorang ibu. Hmm..yang jelas, wanita khususnya seorang ibu memang sosok terkuat di dunia. Bahkan lelaki pun tak mampu menandingi kekuatannya yang sempurna. Aku pun tersenyum dan berkata dalam hati, aku menyayangimu ibu, mungkin lebih dari sayangku pada ayah.
#Tersenyum
Setitik hal yang memberi kesejukan bagi alam semesta sebagai pengucap syukur atas cinta-Nya..
Kamis, 29 November 2012
Sabtu, 24 November 2012
Rabu Petang di Persimpangan
Yang kulihat di 9 Maret 2012
Kutemui ia di penghujung petang ini, entahlah siapa ia. Namun yang jelas, sosoknya bersahaja dan penuh perhatian. Pakaian dan sepatunya menunjukkan bahwa ia adalah seorang pendidik, namun usianya seperti tidak jauh di atasku. Tidak tampan memang, namun wajahnya cukup memberi bekas bagi yang melihatnya. Wanita pun paham itu. Di sampingnya terlihat anak usia 7 tahun yang sedang memegang perutnya sambil mengeluh karena tidak terbiasa naik angkutan umum. Anak itu adalah sulung dari ibu yang duduk di depanku, yang di pangkuannya sudah terdapat dua anak laki-laki lagi, entah ke mana bapaknya. Hmm..saat anak usia 7 tahun itu tak kuasa ingin memuntahkan seluruh makanan dari dalam perutnya, ia membantunya dengan tulus. Hal itu terlihat dari bias wajahnya. Ia memijat leher anak itu, tanda cepatlah keluarkan semuanya agar tidak mual lagi. Sambil merogoh tasnya, dan mengeluarkan minyak aroma terapi dengan wangi yang juga kusuka. Kemudian mendekatkan kepada hidung anak itu. Aku memeras pikiranku, lelaki yang baik, anak siapa ia? Kakak dari siapa ia? Adik dari siapa ia? Atau bahkan jika ia sudah menikah, suami dari siapa ia? Sepertinya keluarganya pun sangat disayanginya dan menyayanginya. Semakin terpikir hal-hal aneh di kepalaku, andai aku dapat yang seperti itu, mungkin aku takkan mengeluh lagi hidup di dunia ini. Tapi, tak terasa aku sudah sampai di tempat tujuan. Ia pun dengan tanggapnya membantu berkata dan memberhentikan mobil umum yang kami tumpangi. Memang hanya sedikit kebaikannya, namun belum tentu seluruh lelaki bertindak hal setanggap dan sepeka itu, apa lagi anak tersebut jelas bukan siapa-siapa, bahkan tidak ada hubungan apa pun. :) Aku suka seluruh hal yang baik di dunia ini.
Kutemui ia di penghujung petang ini, entahlah siapa ia. Namun yang jelas, sosoknya bersahaja dan penuh perhatian. Pakaian dan sepatunya menunjukkan bahwa ia adalah seorang pendidik, namun usianya seperti tidak jauh di atasku. Tidak tampan memang, namun wajahnya cukup memberi bekas bagi yang melihatnya. Wanita pun paham itu. Di sampingnya terlihat anak usia 7 tahun yang sedang memegang perutnya sambil mengeluh karena tidak terbiasa naik angkutan umum. Anak itu adalah sulung dari ibu yang duduk di depanku, yang di pangkuannya sudah terdapat dua anak laki-laki lagi, entah ke mana bapaknya. Hmm..saat anak usia 7 tahun itu tak kuasa ingin memuntahkan seluruh makanan dari dalam perutnya, ia membantunya dengan tulus. Hal itu terlihat dari bias wajahnya. Ia memijat leher anak itu, tanda cepatlah keluarkan semuanya agar tidak mual lagi. Sambil merogoh tasnya, dan mengeluarkan minyak aroma terapi dengan wangi yang juga kusuka. Kemudian mendekatkan kepada hidung anak itu. Aku memeras pikiranku, lelaki yang baik, anak siapa ia? Kakak dari siapa ia? Adik dari siapa ia? Atau bahkan jika ia sudah menikah, suami dari siapa ia? Sepertinya keluarganya pun sangat disayanginya dan menyayanginya. Semakin terpikir hal-hal aneh di kepalaku, andai aku dapat yang seperti itu, mungkin aku takkan mengeluh lagi hidup di dunia ini. Tapi, tak terasa aku sudah sampai di tempat tujuan. Ia pun dengan tanggapnya membantu berkata dan memberhentikan mobil umum yang kami tumpangi. Memang hanya sedikit kebaikannya, namun belum tentu seluruh lelaki bertindak hal setanggap dan sepeka itu, apa lagi anak tersebut jelas bukan siapa-siapa, bahkan tidak ada hubungan apa pun. :) Aku suka seluruh hal yang baik di dunia ini.
Senin, 13 Juni 2011
Hujan yang Bersembunyi
Kalian tahu awan?
Awan kini membentuk gumpalan hujan tanpa kutahu hujan itu akan turun kapan dan di mana.
Bimbang memang, namun perjalanan setiap keyakinan takkan ada yang dapat membacanya selain keyakinan itu sendiri.
Seperti awan dan hujan.
Seperti malam dan bintang.
Seperti lebah dan madunya.
Seperti kesayangan dan rasa kasih.
Seperti pertemuaan dan kehilangan.
Keberadaan untuk menunggu suatu hal yang tak pasti dan mungkin tak akan terjadi. Namun memiliki harapan untuk dapat terjadi di kemudian hari.
Ya, aku hanya berharap awan-awan itu bersentuhan hingga membentuk satu rintikan kecil yang menyejukkan tanpa harus menyakiti setiap keyakinan yang tersentuh.
Awan kini membentuk gumpalan hujan tanpa kutahu hujan itu akan turun kapan dan di mana.
Bimbang memang, namun perjalanan setiap keyakinan takkan ada yang dapat membacanya selain keyakinan itu sendiri.
Seperti awan dan hujan.
Seperti malam dan bintang.
Seperti lebah dan madunya.
Seperti kesayangan dan rasa kasih.
Seperti pertemuaan dan kehilangan.
Keberadaan untuk menunggu suatu hal yang tak pasti dan mungkin tak akan terjadi. Namun memiliki harapan untuk dapat terjadi di kemudian hari.
Ya, aku hanya berharap awan-awan itu bersentuhan hingga membentuk satu rintikan kecil yang menyejukkan tanpa harus menyakiti setiap keyakinan yang tersentuh.
Minggu, 20 Maret 2011
Hidup Bertemankan Kerikil Tajam (Bagian 1)
Hari ini suram, sesuram hatinya yang selalu mencoba tuk tetap tegar. Meski jalan yang ia lalui selalu bertaburkan kerikil, namun ia mengerti apa yang harus dilakukannya dalam hidup ini. Ya, awal hidup yang tanpa perencanaan, kemudian setelah beranjak dewasa, menjadi penuh perencanaan. Mungkin memang begini layaknya manusia hidup, penuh pemikiran, seperti yang orang tuanya pun rasakan, dan menjadi penglihatnya sepanjang tahun ini. Meski melalui beberapa hambatan, namun hidup harus tetap berjalan. Rasanya, Itulah yang dinamakan hidup.
Dahulu kala, ia yang kecil selalu menjadi dambaan kawan-kawannya. Pujian guru-gurunya. Selalu mendapat peringkat, atas prestasinya di kelas (walaupun tak pernah mendapat pujian dari ayahnya. Ya, Ayah memang manusia yang dingin, namun tetap terasa menghangatkan seluruh orang di sekelilingnya). Orang tua yang selalu memperhatikan penuh anak-anaknya. Orang tua yang sangat mengerti agama (sampai pernah, saat ia diperintahkan tuk menghafal satu buah do’a, dan ia lama dalam menghafal, ayah sudah menyiapkan sapu lidi. Ya, ayahnya memang orang yang sangat tegas). Orang tua yang menjadi panutan bagi masyarakat, bahkan tidak hanya masyarakat di sekelilingnya. Hidup dalam keluarga yang berkecukupan. Tempat tinggal yang nyaman dan layak huni. Anak istimewa, yang tinggal dalam kehidupan yang istimewa, yang tidak setiap anak sesusianya dapat merasakan kebahagiaan yang ia rasakan.
Hingga pada suatu saat, setelah ia menyelesaikan bangku Sekolah Dasar, ayahnya mengirimnya ke sebuah sekolah Islam berasrama yang jauh, namun sebagian guru-guru di sana masih kerabat dekat ayah. Tapi di luar dugaan, anak istimewa ini sama sekali tak merasakan kesenangan tinggal di sebuah asrama yang jauh dari orang tua, dan teman-teman yang tidak semuanya ramah dan mudah diajak berteman (mungkin karena masih terbawa keegoisan remaja seumurannya). Hingga ia sudah genap setengah tahun pun, ia masih menangis jika ibunya pulang setelah selesai menjenguk, menarik-narik baju ibunya sambil meraung menangis meminta tolong untuk jangan meninggalkannya sendiri di sini, di penjara suci ini (tempat yang asing untuknya) ketika ibu akan beranjak memasuki mobil. Sampai-sampai ketika ayahnya yang menjenguk, ia tak mau tidur di asrama, ia lebih memilih untuk tidur bersama ayahnya di tempat tinggal kerabat dekat ayah. Anak pertama yang manja, tidak pantas sebetulnya disebut anak pertama.
Satu tahun berlalu pun, sungguh tak terasa. Namun tiba-tiba dalam perpulangan siswa, ayah berjanji akan menjemputnya. Menjemput anak pertamanya untuk pulang, berlibur, dan berkumpul bersama keluarga. Ia pun senang bukan kepalang. Rindu akan ayahnya. Namun, yang terjadi pada hari sebelum perpulangan. Malam yang penuh tanda tanya. Ia dipanggil oleh kerabat dekat ayah (paman dan bibinya) untuk pulang ke kampung halaman, dengan iming-iming “Ayah sedang di jalan, dan akan menjemput di sana”. Ya, meski penuh tanda tanya, ia pun ikut pulang bersama paman dan bibinya ke kampung halaman (bukan ke rumah tercinta yang ia rindukan). Namun sesampainya di kediaman orang tua ayah (kakek dan nenek), tak ia temukan sosok yang fasih betul 12 tahun ia panggil “Ayah”. Yang hidungnya mirip benar dengan hidungnya. Kulit berwarna sawo matang. Bertubuh kekar berwibawa sebagai penopang hidup keluarganya. Ya, ayahnya yang selalu ia banggakan. Dalam pikirannya, “Mungkin ayah belum sampai.” Kemudian ia menunggu sang ayah, dan tak terasa memejamkan kedua bola matanya yang bulat, yang sedari tadi ditopang oleh kedua pipinya yang ranum.
Dahulu kala, ia yang kecil selalu menjadi dambaan kawan-kawannya. Pujian guru-gurunya. Selalu mendapat peringkat, atas prestasinya di kelas (walaupun tak pernah mendapat pujian dari ayahnya. Ya, Ayah memang manusia yang dingin, namun tetap terasa menghangatkan seluruh orang di sekelilingnya). Orang tua yang selalu memperhatikan penuh anak-anaknya. Orang tua yang sangat mengerti agama (sampai pernah, saat ia diperintahkan tuk menghafal satu buah do’a, dan ia lama dalam menghafal, ayah sudah menyiapkan sapu lidi. Ya, ayahnya memang orang yang sangat tegas). Orang tua yang menjadi panutan bagi masyarakat, bahkan tidak hanya masyarakat di sekelilingnya. Hidup dalam keluarga yang berkecukupan. Tempat tinggal yang nyaman dan layak huni. Anak istimewa, yang tinggal dalam kehidupan yang istimewa, yang tidak setiap anak sesusianya dapat merasakan kebahagiaan yang ia rasakan.
Hingga pada suatu saat, setelah ia menyelesaikan bangku Sekolah Dasar, ayahnya mengirimnya ke sebuah sekolah Islam berasrama yang jauh, namun sebagian guru-guru di sana masih kerabat dekat ayah. Tapi di luar dugaan, anak istimewa ini sama sekali tak merasakan kesenangan tinggal di sebuah asrama yang jauh dari orang tua, dan teman-teman yang tidak semuanya ramah dan mudah diajak berteman (mungkin karena masih terbawa keegoisan remaja seumurannya). Hingga ia sudah genap setengah tahun pun, ia masih menangis jika ibunya pulang setelah selesai menjenguk, menarik-narik baju ibunya sambil meraung menangis meminta tolong untuk jangan meninggalkannya sendiri di sini, di penjara suci ini (tempat yang asing untuknya) ketika ibu akan beranjak memasuki mobil. Sampai-sampai ketika ayahnya yang menjenguk, ia tak mau tidur di asrama, ia lebih memilih untuk tidur bersama ayahnya di tempat tinggal kerabat dekat ayah. Anak pertama yang manja, tidak pantas sebetulnya disebut anak pertama.
Satu tahun berlalu pun, sungguh tak terasa. Namun tiba-tiba dalam perpulangan siswa, ayah berjanji akan menjemputnya. Menjemput anak pertamanya untuk pulang, berlibur, dan berkumpul bersama keluarga. Ia pun senang bukan kepalang. Rindu akan ayahnya. Namun, yang terjadi pada hari sebelum perpulangan. Malam yang penuh tanda tanya. Ia dipanggil oleh kerabat dekat ayah (paman dan bibinya) untuk pulang ke kampung halaman, dengan iming-iming “Ayah sedang di jalan, dan akan menjemput di sana”. Ya, meski penuh tanda tanya, ia pun ikut pulang bersama paman dan bibinya ke kampung halaman (bukan ke rumah tercinta yang ia rindukan). Namun sesampainya di kediaman orang tua ayah (kakek dan nenek), tak ia temukan sosok yang fasih betul 12 tahun ia panggil “Ayah”. Yang hidungnya mirip benar dengan hidungnya. Kulit berwarna sawo matang. Bertubuh kekar berwibawa sebagai penopang hidup keluarganya. Ya, ayahnya yang selalu ia banggakan. Dalam pikirannya, “Mungkin ayah belum sampai.” Kemudian ia menunggu sang ayah, dan tak terasa memejamkan kedua bola matanya yang bulat, yang sedari tadi ditopang oleh kedua pipinya yang ranum.
B e r s a m b u n g
Langganan:
Postingan (Atom)